Lagi, Kekerasan Terhadap TKI di Arab Sauidi

Selasa, 18 November 2008 | 09:58 WIB

Harry Susilo

BREBES, SELASA – Kasus kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negeri kembali terjadi. Kali ini nasib naas menimpa Waroah (38), TKI asal Kabupaten Brebes, yang mengaku dianiaya di Arab Saudi selama sekitar delapan bulan. Akibatnya, ia harus dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Brebes.

Setelah minta dipulangkan, perempuan asal Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, tersebut tiba di rumahnya pada Minggu (16/11) sekitar pukul 10.00. Tiba dengan kondisi lemah, Waroah langsung diperiksakan ke dokter terdekat dan kemudian direkomendasikan untuk mendapat perawatan di rumah sakit.

“Saya tidak tahan disiksa terus-menerus oleh majikan, lebih baik saya pulang,” ucap Waroah seraya terbaring lemah di lantai dua bangsal penyakit dalam RSUD Brebes, Senin (17/11).

Ketika akan dipulangkan, Waroah mengaku hanya dibekali uang saku sebesar 500 riyal dan tiket pesawat ke Indonesia oleh majikannya yang bernama Mahmud Masri. “Gaji saya selama 11 bulan 6 hari juga tidak dibayarkan,” kata perempuan dengan tiga anak ini. Padahal, berdasarkan perjanjian kerja, Waroah mestinya mendapatkan 600 riyal per bulannya.

Waroah mengaku, ia diberangkatkan untuk bekerja di Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga pada 10 Desember 2007 oleh Perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) bernama PT Bantal Perkasa yang berkantor di kawasan Condet, Jakarta Timur.

Pada awal bekerja, Waroah diperlakukan secara baik oleh sang majikan. Namun, tiga bulan berselang, kondisi berubah drastis. Waroah selalu mendapat siksaan baik oleh majikan laki-laki maupun perempuan. “Hampir setiap hari, saya dipukuli, diinjak, ditempeleng, bahkan dicambuk oleh majikan saya karena pekerjaan saya dinilai lamban,” tutur Warosah mengisahkan.

Hingga kini, masih tampak bekas luka di leher, tangan, kuping, dan kaki Waroah. Namun, Waroah mengaku tidak dendam kepada majikannya. “Saya hanya ingin gaji saya dibayarkan secara utuh untuk biaya berobat dan kebutuhan hidup di kampung,” katanya.

Chaeratun (35), adik Waroah, mengaku kaget begitu mendapati kakaknya pulang ke rumah dalam kondisi lemas dan tidak bisa jalan. Ia juga mengakui, belum pernah memperoleh kabar dari kakaknya selama Waroah bekerja di Arab Saudi. “Padahal, saya sudah lima kali kirim surat, tetapi tidak pernah sampai ke kakak saya,” ucapnya.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Rakyat Brebes Mohammad Syamsul Haris mengatakan, Pemerintah Kabupaten Brebes seharusnya bisa melindungi warganya yang bekerja sebagai TKI di luar negeri. “Mereka ini pahlawan devisa, tetapi pemerintah tidak pernah serius melindungi TKI,” ucap Haris ketika mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Brebes untuk beraudiensi mengenai permasalahan TKI.

Ketidakseriusan pemerintah daerah untuk melindungi TKI, lanjut Haris, tercermin dari banyaknya permasalahan yang tidak pernah terselesaikan. Sepanjang tahun 2008 ini, terdapat 11 permsalahan TKI Brebes yang belum diselesaikan.

Kepala Subdinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Kependudukan, Catatan Sipil, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Brebes Suhintoro mengakui, pihaknya belum mendapat aduan mengenai kasus penganiayaan Waroah. “Jika aduannya masuk, akan kami fasilitasi agar sampai ke Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI serta Departemen Luar Negeri untuk segera menyelesaikan kasus tersebut,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: