Semangat Kota Tegal: “One Soul One Struggle”

Semangat Kota Tegal: “One Soul One Struggle”

Kota Tegal adalah sebuah kota pesisir Jawa Tengah bagian utara, seluas 3.538,5 Ha, berpenduduk 245.923 jiwa (1995), yang mencakup 4 Kecamatan, 27 Kelurahan. Dengan angka kemiskinan berjumlah 15 ribu Kepala Keluarga atau sekitar 62 ribu jiwa dan angka pengangguran sekitar 52 ribu jiwa. Lokasi kota berada di tengah Kabupaten Tegal (timur dan selatan), Kabupaten Brebes (barat) dan laut Jawa. Sebagaimana di kota lainnya umumnya warga Tegal di perkotaan tinggal di pemukiman yang disebut kampung. Sejak tahun 60an, Tegal masuk dalam katagori daerah padat penduduk.

Secara historis, ekonomi, politik, sosial dan kultural, penduduk dan wilayah, Kota Tegal berkaitan langsung dengan tiga Kabupaten di sekitarnya, yaitu: Kabupaten Tegal (Kota Slawi), Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pemalang. Antara tahun 1928-1931, wilayah Tegal, Brebes dan Pemalang merupakan satu wilayah administratif, dibawah seorang Residen yang berkedudukan di Tegal. Setelah terjadinya depresi ekonomi, pemerintah Hindia Belanda mereorganisasi ketiga wilayah itu kedalam Karisidenan Pekalongan. Namun sudah sejak Proklamasi 1945, dinamika sosial di Tegal, Brebes dan Pemalang, dikenal sebagai “Pristiwa Tiga Daerah,” menunjukkan gejala yang berbeda dari wilayah Pekalongan dan Batang. Adanya dinamika lokal ini menunjukkan akar sejarah yang sama, dan karakteristik budaya yang menyatukan penduduk Tegal, Brebebes dan Pemalang.

Sebelum berkembang menjadi wilayah administratif yang seperti sekarang, Kota Tegal mencakup 2 Kecamatan (Tegal Timur dan Tegal Barat), kemudian menjadi 4 Kecamatan, dengan dimasukkannya Tegal Selatan dan Margadana. Pelabuhan dan perhubungan merupakan urat nadi kota Tegal. Tidak heran jika luas tanah yang penggunaannya untuk Pelindo dan PJKA dahulu mencapai 1/6 luas kota sekarang, atau 1/3 luas kota lama.

Karena Tegal memiliki pantai dimana terdapat banyak warga mencari nafkah sebagai nelayan tradisional, pada tahun 1960, ketika UUP Agraria disusun, potensi ekonomi kelautan tampaknya diharapkan menjadi basis ekonomi Tegal di masa depan. Jalannya sejarah ternyata tidak demikian. Pola pembangunan Repelita I-V tidak memungkinkan Tegal mengembangkan potensi ekonomi kelautan, karena pemerintahan. Dampaknya terasa sekarang pada rendahnya skala ekonomi kegiatan para nelayan Tegal maupun kegiatan pelabuhan yang dikelola Pelindo.

Meskipun identitas kultural Kota Tegal dikenal dengan sebutan Kota Bahari, karena ekonomi kelautan memang tidak berkembang secara nasional, sampai saat ini pertumbuhan kota Tegal lebih disebabkan karena aspek politik, pemerintahan dan perhubungan darat. Profil Kota Tegal, ekonomi, demografi dan administrasi, tampaknya adalah hasil dari warga Tegal memanfaatkan potensi jalur darat pantai utara yang menghubungkan pulau Jawa, khususnya Jakarta. Dalam 50 tahun terakhir ini, jalur pantura itulah yang membentuk kota Tegal seperti sekarang.

Semangat Orang orang Tegal, One Soul One Struggle …

Berkat jalan pantura itulah sejak 1970 terjadi arus migrasi bolak balik warga Tegal ke Jakarta dengan frekuensi yang tinggi. Di Jakarta karena keuletan kewiraswastaan para perantau terkenal dengan nama Warung Tegal (Warteg). Yang menarik ialah, mereka yang berhasil diperantauan kemudian kembali ke desa asalnya, untuk memperbaiki rumah seperti di Kecamatan Margadana, asal para perantau Tegal di Jakarta, yang penduduknya kini tampak lebih sejahtera. Gejala ini menunjukkan kemampuan warga Tegal, semangat dan nilai nilai budaya yang tetap survive dan bahkan bisa mengambil tempat di tengah arus semangat perubahan zaman.

Semangat orang orang Tegal, yang oleh Anton Lucas dilukiskan sebagai “One Soul One Struggle” itu secara simbolk tampak sekali lagi pada Mei-Juni 1998. Menyusul peristiwa politik di Jakarta, yang berujung pada mundurnya Presiden Soeharto, di Tegal rakyat menuntut pengunduran diri Walikota Sarkawi. Peristiwa ini mengingatkan pada respons rakyat Tegal terhadap Proklamasi 17 Agustus 1945, ketika pada bulan November tahun yang sama rakyat memasuki kota untuk mengganti para pejabat pangreh praja yang dianggap sebagai simbol korupsi dan ketidakadilan. Dalam 10 tahun terakhir ini Kota Tegal berangsur angsur muncul sebagai pengikat bagi tiga Kabupaten di sekitarnya. Apakah para politisi telah belajar dari sejarah “Tiga Daerah”?

Perkembangan Kota Tegal akan mengintegrasikan Brebes, Tegal dan Pemalang, seperti keadaan sebelum malaise tahun 1933. Namun hal itu untuk sebagian tergantung dari cepat lambatnya kewenangan politik di “Tiga Daerah” merespon perkembangan Kota Tegal dalam mengintegrasikan Tegal (Slawi), Brebes dan Pemalang. Untuk sebagian lainnya, ditentukan kebijakan yang kondusip dari Semarang dan Jakarta dalam mendukung pemulihan Kota Tegal sebagai pusat “Tiga Daerah.” Banyak yang harus dilakukan untuk bisa berharap, namun setiap warga Tegal, Brebes dan Pemalang kiranya menaruh harapan yang sama: agar para wakil rakyat dan pemerintah yang dipilih mampu menerjemahkan dan mengkonstruksi secara tepat Otonomi Daerah. Sebagaimana dikatakan seorang budayawan Tegal, “ Yang disebut Tegal itu ya Tegal, Brebes, Pemalang.”

4 Tanggapan to “Semangat Kota Tegal: “One Soul One Struggle””

  1. n i s s a l a w l i e t -- Says:

    berita bagus,mudah2an para pejabat eksekutif dan legislatif dpt mewujudkan bersama rakyat amiin…

  2. ralat…. walikota tegal yang diturunkan paska reformasi lengsernya Soeharto, bukan sarkawi, tapi ZAKIR. gitu bos Yamin… Tanya mas Uyip tuh pak, dia pelaku reformasi di Tegal saat itu. Saat ramai-ramai itu dia masih mahasiswa semester 6 Fakultas Hukum UPS. (soalnya saya juga di sana) he he he…. salam sukses Pak Yamin…. Semoga kebaikan mengiringi langkah Pak Yamin.

  3. Pak Ikmal juga sudah ngeblog lho…
    kenapa tidak di link kesana?
    http://www.ikmalcenter.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: