Cukupkah dengan Iklan Politik?

INILAH.COM, Jakarta – Prabowo Subianto dan Rizal Mallarangeng (RM09) lebih percaya iklan politik ketimbang membangun dialog dan jaringan sosial. Bisa ditafsirkan mereka enggan menghadapi publik dan menangkap jiwa zaman (zeitgeist).

Hal itu dipaparkan Direktur Lembaga Survei Nasional Umar S Bakry. Ia menilai Prabowo dan Rizal lebih percaya iklan di televisi dan media massa ketimbang membangun komunikasi kepada rakyat dan terjun langsung untuk mengetahui aspirasi rakyat yang sejati.

“Kita belum tahu hasil akhirnya. Tapi, hampir pasti iklan politik itu menyajikan hasil yang semu dan tak efektif di negeri ini. Di AS yang masyarakatnya sudah maju, iklan politik bisa efektif. Lihat saja Barack Obama. Di Indonesia yang masih relatif terbelakang, iklan politik bisa jadi lain dan berbeda hasilnya,” kata Umar, alumnus pasca sarjana UI.

Peningkatan belanja iklan politik makin nyata akhir-akhir ini. Selama Januari-Juni 2008, belanja iklan pemerintah dan organisasi politik meningkat 79% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan diprediksi makin tinggi menjelang Pemilu 2009.

Berdasarkan survei Nielsen Media Research Indonesia, total belanja iklan televisi, surat kabar, majalah, dan tabloid pada Januari-Juni 2008 mencapai Rp 19,5 triliun atau meningkat 24% dibandingkan semester I 2007 yang hanya Rp 15,8 triliun.

Di seluruh kategori produk, total belanja iklan di media cetak dan televisi selama semester I 2008 tumbuh 24%. Pertumbuhan tertinggi terjadi di surat kabar. Data belanja iklan itu terekam dalam survei Nielsen yang meliputi 93 koran, 149 majalah dan tabloid, serta 19 stasiun televisi.

Iklan politik justru dihindari oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Parpol berbasis Islam moderat ini lebih mengedepankan kaderisasi dan perluasan konstituen melalui door to door dan dialog langsung dengan rakyat di tingkat akar rumput meski masih terkonsentrasi di perkotaan.

Hasilnya? Terbukti efektif. Di Pemilu 2004, PKS meraih 7,34% suara dan di DPR 8,4%. PKS pun terus berusaha meningkatkan perolehan suara lewat berbagai kreativitasnya, termasuk di tingkat Pilkada.

Dari 138 Pilkada yang diikuti, PKS menang di 81 titik. “Ini bukan menyombongkan diri. Ini hanya menggambarkan betapa PKS cukup solid. Buktinya, di Jakarta dikeroyok 20 parpol, tapi perolehan suara PKS bisa mencapai 42% lebih,” kata Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR-RI yang juga mentana Presiden PKS.

Karena itu, iklan politik tanpa dialog dan tanpa terjun langsung ke tengah rakyat di tingkat bawah, belum bisa jadi gambaran popularitas dan elektabilitas seorang politisi. Iklan politik perlu, tapi itu belum cukup jitu.

Iklan politik tetap harus dibarengi aksi nyata berupa turun langsung ke tengah kehidupan rakyat, khususnya di tingkat bawah. Lihak saja sepak terjang para politisi PDI-P dan PAN. Atau, jika anggaran terbatas, tiru saja metode PKS dalam bergerak meraih suara. [E1/I3]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: