Dialog public dengan ketua komisi IX DPR RI Dr.Ribka Ciptaning

Dialog public dengan ketua komisi IX DPR RI Dr.Ribka Ciptaning

Radar tegal 23 februari 2008
Pelayanan Kesehatan untuk masyarakat miskin pengguna ASKESKIN yang belakangan menemuhi kendala terkait data base yang dikeluarkan SK walikota, dibahas serius oleh Lembaga Bantuan Hukum ( LBH ) Tegal dalam diolog public dengan menghadirkan ketua komisi IX DPR RI, Dr.Ribka TJiptaing di markas LBH Tegal jl. Samadikun, no 16 Kota Tegal kemarin.

Pendiri LBH Tegal Yamin SH sebelum menggelar dialog public sempat menyatakan sebenarnya APBN sudah menyediakan dana cukup untuk orang miskin yang butuh pengobatan. “Namun hak rakyat itu diletakan diatas procedural yang rumit, sehingga prinsip pelayanan hilang,” katanya.

Dia berharap saat ini rakyat miskin dapat dipermudah hak haknya untuk berobat gratis tanpa memenuhi kendala di lapangan . Mantan anggota DPR RI itu juga minta dinas terkai dan rumah sakit tidak menghalang halangi warga miskin karena hal ini sudah diputuskan oleh pengambil kebijakan di pusat.

Sementara itu, ketua Komisi IX DPR RI dr,Ribka Ciptaning menyatakan di tahun 2006 pihaknya telah memperjuangkan dana kesehatan rakyat miskin senilai Rp.3,26 tilyun namun dana itu kembali sekitar Rp.930 Milyar karena kurangnya sosialisasi ke masyarakat.hal ini agar rakyat tahu dirinya berhak mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis lewat dana dari pemerintah. Jadi kalau di daerah mengacu pada data base SK walikota maupun bupati, itu tidak berlaku lagi. Sebab bila mengacu pada data base tidak mengakomudir rakyat yang benar benar butuh pertolongan,” terangnya.

Dia memandang bahwa data base lebih mengacu kepada data BPS. Sementara yang benar benar mengetahui kondisi riil masyarkat yang kurang mampu adalah RT,RW,dan Lurah setempat. “ Jadi saat ini masyarkat miskin hanya butuh SKTM(Surat Keterangan Tidak Mampu) dari RT setempat. Dan pihak rumah sakit tidak boleh menolak kedatangan warga yang sudah memegang SKTM,” katanya.

Dia juga berharap RSUD kedepan lebih memperbanyak ruang kelas III untuk menampung rakyat miskin. Hal ini untuk meminimalisir penolakan karena alasan bangsal penuh, sementara rumah sakit terus melakukan penambahan kamar pasien kelas I. Dialog yang dihadiri kurang lebih 200 orang uandangan itu setidaknya mampu memberi percerahan bagi warga miskin. (her) www.yaminsh.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: