Membedah Esensi Postmarxisme

Saturday, 13 September 2008

Lonceng kematian kapitalisme sedang berdentum keras…,kini tiba saatnya membuat aksi perubahan.Karena itulah,wahai kaum buruh sedunia bersatulah! (Karl Marx) BAGI para kalangan marxis atau mereka yang berada di garis batas gerakan sosial berbasis konsepsi marxisme, sabda Karl Marx itu bukanlah hal yang baru. Artinya, dalam konsepsi itu, buruh merupakan agen tunggal yang melawan kekuasaan kapitalisme. Namun, sejak diproklamasikannya sabda Karl Marx itu, hingga kini hantu kapitalisme ternyata masih bergentayangan dalam kehidupan manusia seantero dunia. Hal ini menandakan bahwa perjuangan kaum marxis yang bertolak dari teori Karl Marx kurang memiliki efek juang yang dahsyat. Kurang menohoknya strategi perjuangan merupakan problem utama kegagalan gerakan marxisme klasik itu.

Kapitalisme semakin menyebar luas di masyarakat. Untuk membenahi gerakan dan konsepsi marxisme klasik tersebut,muncullah pemikiran baru di kalangan marxis (new marxisme) yang bercorak revisionistik. New marxisme menemukan beberapa penyebab kegagalan gerakan marxisme klasik melawan kapitalisme. Pertama, karena tidak terorganisirnya kaum buruh dalam suatu partai. Kedua, kaum buruh memiliki kesadaran yang lemah atas situasi penindasan.Kesadaran palsu (false conciousness) masih mengakar di dalam kelas buruh. Agar mereka (para buruh) berhasil menghantam kapitalisme, dibutuhkan gerakan kolektivitas massa dalam suatu disiplin partai dan pemahaman atas hegemoni kaum kapitalis.

Meskipun partai buruh di belahan dunia telah didirikan, termasuk di Indonesia sendiri dan program pendidikan melawan hegemoniparakapitalis telah didistribusikan kepada para buruh, toh hingga detik ini kapitalisme masih bisa unjuk gigi. Pertanyaannya,di manakah landasan konsepsi marxis yang mengalami ?polusi? teoritis dan praktis, sehingga cita-cita (aksiologi) kalangan pengikutnya selalu terseokseok di tengah jalan?

Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe (yang populer disebut Laclau-Mouffe) dalam buku berjudul Hegemoni Dan Strategi Sosialis (Postmarxisme+ Gerakan Sosial Baru) ini mencoba menjawab pertanyaan itu. Sebagai kaum intelektual organik, tentu kredibilitas mereka berdua (Laclau-Mouffe) tidak bisa kita anggap remeh. Ernesto Laclau adalah profesor politik di University of Essex, Inggris, dan Mouffe profesor politik dan demokrasi di University of Westminster,Inggris. Keduanya bukanlah seorang marxis yang suka bersolek dan berhias diri.Pada waktu menimba ilmu di bangku kuliah, mereka berdua telah memfokuskan diri pada gerakan dan pemikiran marxis.

Waktu kuliah di Argentina (tempat kelahirannya), Laclau sudah aktif dalam gerakan mahasiswa kiri.Kemudian dia terjun dalam Partai Sosialis Argentina (PSA). Sementara itu, Mouffe ketika menjadi mahasiswa di Belgia (tempat kelahirannya), telah aktif dalam gerakan mahasiswa sosialis dan menggeluti dunia pers yang berhaluan sosialis. Keduanya memiliki pengalaman yang sama ketika terlibat dalam gerakan sosialis dan antiimperialisme di Eropa dan Amerika Latin. Tidak hanya itu, keduanya juga memiliki kekecewaan yang sama atas konsepsi, gerakan marxis klasik,dan new marxis yang cenderung reduksionis dan esensialis dalam memetakan problem sosial dan kekuasaan. Dari situlah,Laclau- Mouffe berusaha sekeras tenaga memecahkan kebuntuan dan kekecewaannya terhadap marxisme klasik dan new marxis dengan merekonstruksi landasan pemikiran dan gerakan marxisme.

Ada dua landasan berpikir yang dijadikan rujukan mereka dalam merekonstruksi marxisme. Pertama, pengembangan konsepsi dasar hegemoni (Gramcian) dan kedua, dominasi (Althuser) sekaligus dikombinasikan dengan landasan berpikir postmodern dan postrukturalis. Ini yang membuat mereka berdua populer dalam pemikiran dan gerakan postmarxisme di kalangan intelektual dan masyarakat. Menurut Laclau-Mouffe, hegemoni yang harus ditekankan dan dipahami bagi gerakan kaum postmarxisme adalah hegemoni yang tersebar di dalam medan sosial dan penuh keterbukaan. Bagi mereka, masyarakat merupakan entitas yang tidak memiliki esensialisme, tak ada titik pusatnya dan tak ada pangkalujungnya (hal.137).

Ini mengafirmasi pandangan kaum postmodern.Namun, pandangan ini bertolak belakang dengan cara pandang Marx dan Gramsci yang menganggap masyarakat terdikotomis dalam dua kelas: kelas buruh dan kapitalis (borjuis). Bagi mereka,identitas buruh dalam masyarakat lebih bersifat cair (fluid) dan tidak utuh (fixed).Karena cair,maka sifatnya pun mengalir. Ibaratnya aliran sungai dengan air yang tidak semuanya mengalir ke laut, tapi ada yang mengisi anak-anak sungai yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, identitas buruh pun tidak lagi mengental di dalam aktivitas pabrik,tapi juga di dalam medan kultural, politik, dan sosio-ekonomis (hlm 146) Sebagai bagian dari upaya pengembangan relasi sosial subordinasi dan relasi dominasi yang diadopsi dan dikembangkan dari pemikiran Gramscian dan Althousser, maka Laclau-Mouffe memasukkan analisis wacananya (discourse analysis) di dalam membaca formasi sosial.

Baginya, setiap tindakan merupakan wacana dan wacana selalu memiliki makna. Dengan begitu, tindakan dan praktek sosial selalu mengandung makna. Dan makna inilah yang sebetulnya menjadi dasar formasi sosial. Pada tatanan sosial, hal seperti itu terjadi dan akan terus terjadi. Para kaum pemilik modal (entah itu modal ekonomis, politik, sosial, dan kultural) akan menggunakan kuasa wacana di dalam menciptakan relasi dominasi dan subordinasi. (Ardhie Raditya, MA*)

* Ardhie Raditya, MA adalah Sosiolog Postmodern, staf pengajar Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial Unesa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: