Interview Majalah Adil dengan Taufik Kiemas

Interview Majalah Adil dengan Taufik Kiemas

Sampul Buku Taufik Kiemas

Sampul Buku Taufik Kiemas

Anda sering dijuluki oleh kader-kader PDIP sebagai seorang ‘strategic thinker’. Bisa anda ceritakan bagaimana anda mengasah kemampuan itu?

Saya belajar dari pengalaman panjang penderitaan. Dan di setiap periode saya tidak pernah lepas dengan anak-anak muda. Soalnya, apa yang sudah kita terima kan mesti di update. Nah, meng-updatenya sama anak muda.
Kalau kita belajar dari sejarah PDIP, ketika kalah dalam Pemilu 2004, waktu itu sebagian besar orang banyak ngomong kekalahan tidak bakal terjadi. Di Pemilu 2004, kita hanya dapat 18, 5 persen padahal di tahun 1999 tanpa memiliki organisasi yang bagus bisa menang. Sebetulnya, tahun 1999 itu pemberian rakyat semua.
Sementara tahun 2004 PDIP itu khan rusak. Orangnya mabok. Berpikir diri sendiri. Kalau rakyat datang, tidak mau terima. Padahal, PDIP kan wong cilik setia.
Ketika saya berkeliling ke berbagai tempat. Suatu kali selesai sembahyang Jumat di salah satu Mesjid di Cilacas, tepatnya di Desa Susukan. Ada yang meminta saya untuk berdiskusi. Seorang tua dari kampung banget. Imam Masjid Dusun. Ada yang menarik buat saya, dia bilang Mas Taufik kalo nyalonin siapa aja pasti tidak jadi. Terus saya katakan, apa salahnya PDIP Pak?
Menurut orang tua itu, ada tiga hal yang PDIP mesti intropeksi. Pertama, PDIP mesti menghilangkan kesan sebagai partai preman. Kedua, PDIP kesannya sebagai partai Kristen. Ketiga, PDIP tempat anak-anak PKI kumpul. Ini khan tiga analisis atas stigma PDIP yang dasyat sekali. Sebetulnya, yang paling pinter strateginya rakyat. Kita tinggal merumuskan saja.

Anda belajar strategi itu dari rakyat langsung?

Ya ada lagi nasehat pak tua tadi. Kalau Mas Taufik keliling daerah, sebelum memulai pembicaraan dan segala macamnya harus minta maaf dulu. Maaf atas amanah rakyat yang sejak tahun 1999 sampai 2004 tidak pernah dilaksanakan. Menyia-nyiakan kepercayaan rakyat kepada PDIP dan Ibu Mega. Awalnya kita kaget juga. Bagi pemimpin di Indonesia minta maaf khan tabu sekali. Tapi, sejak itu saya katakan kita ini harus minta maaf.

Bentuk minta maafnya?

Mesti secara lisan. Jadi, kalau dalam pertemuan dengan seribu orang atau seratus orang harus dilisankan.

Itu dilakukan setiap momen?

Ya. Ada mungkin setahun lebih saya minta maaf. Hampir 250 PAC yang saya datangi seluruh Indonesia dengan sampelnya berbeda-beda. Di Sumsel, Jambi, Lampung, Banten dan lain-lain.

Bagaimana usul anda kepada PDIP untuk menghilangkan stigmatisasi PDIP sebagai partai preman, Kristen dan eks PKI?

Kita harus bikin organisasi sayap. Misalnya, Baitul Muslimin Indonesia. Dan, Baitul Muslimin Indonesia tidak boleh ecek-ecek. Karena kalau sembarangan saja, maka orang juga tidak percaya. Makanya saya keliling ke tempat NU, Muhammadiyah, KAHMI, menjelaskan tentang Baitul Muslimin.

Apakah tidak ada ketakutan bahwa citra PDIP sebagai partai nasional menjadi hilang?

Tidak ada.

Adakah friksi-friksi di dalam PDIP akibat pembentukan Baitul Muslimin Indonesia?

Hampir tidak ada. Soalnya yang berkeliling bersama saya ada Bang Sabam Sirait sama Panda Nababan. Ke Muhammadiyah, NU, KAHMI, mereka ikut.

Bagaimana menggarap Baitul Muslimin yang proporsional di PDIP agar tidak menghilangkan citranya sebagai partai nasionalis?

Sekarang kan sudah proporsional. Sebab yang masuk intelektual. Nah, di PDIP itu sudah tidak ada lagi problem-problem ras, suku dan agama. Setelah itu harmoni mesti kita buat. Tidak mungkin kita Pancasila tanpa harmoni. Inilah yang sedang dicoba PDIP sekarang ini.

Kembali ke soal anak muda. Sebetulnya, apa alasan Anda memprioritaskan untuk menggarap anak muda? Apakah hal itu disebabkan PDIP sekarang ini mulai menyadari adanya krisis regenerasi kader?

Sebelum 1999, kan yang kumpul di Kebagusan tidak ada yang tua. Alumni Kebagusan kan tidak ada yang orang tua. Kalau kita tidak kembali kesitu lagi, ini tidak akan jalan.

Anda terkenal kuat meladeni anak-anak muda untuk diskusi berjam-jam?

Sekarang juga sama. Disini juga hampir tiap hari berdiskusi dengan anak muda. Ada satu hal yang orang selalu lupa dalam berpartai politik, orang tidak akan mungkin jadi kalau tidak ada mentor dan patronnya.

Sekarang ini apakah Anda merasa sedang memerankan diri sebagai mentor dan patronnya anak-anak muda di PDIP?

Tidak mungkin saya katakan bahwa saya ini mentor. Soalnya anak-anak muda ini khan juga orang-orang pintar. Saya berinteraksi dengan mereka dan mendiskusikan masalah-masalah nasionalisme. Sebab, buat anak-anak muda masalah nasionalisme itu menarik.

Menurut anda mengapa anak-anak muda itu kini menggandrungi wacana nasionalisme?

Selama kita di zaman pak Harto, kita kan sama sekali tidak berideologi. Negeri ini kan tidak punya ideologi. Tidak jelas ideologinya apa. Seperti juga saya pernah dikritik di tahun 2005 ketika keliling, masih ada yang bertanya ideologinya PDIP apa sih? Kira-kira kan begitu.

Itu pertanyaan yang masih sering diajukan?

Sekarang sudah tidak ada.

Bagi Anda NKRI, Pluralisme dan Pancasila harga mati?

Kita ini kan menjaga nusantara dalam bingkai NKRI. Kalau kita bicara nusantara itu, kita pasti bicara Bhineka Tunggal Ika.

Darimana anda mendapatkan kesadaran yang kuat tentang ketiga hal itu?

Bekal saya ketika di Yogyakarta. Saya ikut ayah saya di Jogja. Yang kedua, waktu saya tinggal di asrama Katholik.

Bisa Anda ceritakan lagi gagasan Anda tentang Rumah Besar Kaum Nasional itu?

Sebenarnya anak-anak muda sekarang ini merindukan Rumah Besar Kaum Nasionalis. Saya bilang ke PDIP, kalau di PDIP sudah tidak ada harmoni, ketika kampanye orang saling tempelengan, tidak akan ada yang mau masuk PDIP.

Pertemuan Golkar PDIP di Medan dan Palembang itu demi menajamkan pemahaman tentang Rumah Besar Kaum Nasional atau hanyalah rancangan untuk melakukan penyederhanaan Partai Politik?

Kedua-duanya.

Seberapa penting kita melakukan penyederhanaan partai politik itu?

Saya rasa semuanya penting. Kita harus memberi pelajaran pada rakyat juga. Kalau banyak partai kan tidak benar juga. Tapi kalau kita sebagai partai menghalangi pendirian partai juga tidak benar. Yang mengadili kan mesti rakyat.

Gagasan yang ingin dilanjutkan dari pertemuan Medan dan Palembang itu sudah sejauh mana tindaklanjutnya? Sekarang ini seperti terkesan berhenti?

Secara sistem anak-anak muda yang melanjutkan. Bukan saya lagi.

Pertemuan Medan dan Palembang dengan Golkar itu apakah tidak justru memicu konflik di tingkat bawah? Karena pengalaman PDIP ketika Orde Baru yang banyak disakiti oleh Golkar?

Kalau saya bicara di PDIP. Saya bertanya pada kader-kader muda yang tamat sekolah. “Sarjana atau bukan? Ya, sarjana”, kata mereka. Saya katakan, kalau Bapakmu tidak Pegawai Negeri pasti sekolahmu tidak tamat. Kan masih Golkar. Itu adalah realita yang ada.
Kita ini kalau mau menang tidak bisa sendirian. Dari survei telah dibuktikan. Tidak ada yang di atas 50 persen. Paling tinggi hanya 30 persen sekian. Karena itu ke depan kita harus butuh orang lain. Dengan kata lain kita harus koalisi.

Di daerah, PDIP saat ini sedang dapat angin segar?

Itu semua kan koalisi. Tapi yang jelas, di PDIP wajah pencalonan anak muda itu semua sudah kelihatan. Seperti Bambang DH, Rustriningsih dan lain-lain.

Saat ini Alumni Kebagusan sudah kemana saja?

Sekarang ini mereka sudah ada yang menjadi Walikota Surabaya, Blitar, Kebumen, Subang.

Alumni Kebangusan itu anda yang merekrut sendiri?

Tidak, mereka yang datang. Nah, interaksi dengan anak muda inilah membuat saya bahagaia.

Lalu apa masalahnya dengan orang tua?

Mereka itu hanya membicarakan penyakit dan besok mati. Jadi tidak semangat.

Apa persiapan PDIP di 2009 untuk pencalonan legislatif?

2009 nanti 70 persen adalah anak muda. Itu sangat realistis. Dari sisi usia yaitu 45 ke bawah. Yang agak tua 45 – 50 sebanyak 10 persen, dan yang usia 50 – 65 lima persen.

Interview Majalah Adil dengan Taufik Kiemas

Interview Majalah Adil dengan Taufik Kiemas

Komposisinya lebih banyak pemimpin dari daerah atau dari pusat?

Tidak semuanya dari daerah. Kalau yang pintar-pintar dari daerah ke pusat semua itu akan menimbulkan kesulitan juga nantinya. Malah sekarang ini yang pintar-pintar dari pusat banyak yang mau ke Dati II. Ini kan sebetulnya penugasan. Itu meniscakan harus satu tim dan satu korps DPR. Jangan sampai DPR pusat tidak mengerti apa yang ingin disalurkan DPR Tingkat II.

Apa kejutan 2009 dari PDIP?

Tidak ada. Kalau Mba Mega saat ini dia memang harus mulai menyapa rakyat.

Harus mulai dengan kata “maaf”?

Ya, harus. Itu karena permintaan rakyat bukan Taufik.

Apa keunggulan PDIP?

Harus diingat, Golkar dalam kondisi terbaik saja mendapat 21,5 persen. Sedangkan PDIP dalam kondisi terjelek 18,5. Orang sering lupa mengenai hal itu.
Kalau kita ingat ke belakang, semua duit ditumpahkan ke Golkar pada waktu itu.

Apa kriteria pasangan Megawati di Wapres?

Yang paling penting adalah anak muda. Masa sih, tidak ada orang yang berumur 45 – 50 yang berani menjadi Wakil Presiden.

Sekarang ini apakah survei-survei itu menjadi bahan pertimbangan juga?

Salah satunya tapi kita juga mesti punya record sendiri.

Apa komentar Anda mengenai survei yang meletakkan Megawati saat ini berada di atas?

Menurut saya itu adalah sinyal untuk berhati-hati. Bukan bertambah besar kepala. Kalau tidak, malah bisa menyebabkan kalah lagi.

Apa pendapat Anda mengenai gerakan Islam Taliban yang mulai menggerogoti NKRI?

Pemerintah harus menjaga konstitusi yang telah dibikin. Di Indonesia ini, semua orang menjalani segala macam peri kehidupan dan kenyakinannya tidak boleh dengan kekerasan. Harus dijalani menurut UU itu sendiri.

Bagaimana cara PDIP tetap mempertahankan isu Nasionalisme Bung Karno?

Kita menjalani yang tidak dilakukan oleh partai nasionalis. Kita mengakui 1 Juni 1945 (Hari Lahir Pancasila) adalah satu-satunya Asas. Sebab kalau Marhaenis bisa menyebabkan bermacam-macam penafsiran. Karena itu, menurut saya, puncak ideologi Bung Karno adalah pidato 1 Juni ini. Orang tidak bisa menafsirkan lain selain menjalankan.

Bagaimana dengan Pemerintahan saat ini menurut anda?

Kami memang oposisi dan gencar melakukan kritik tapi pemerintahan ini harus kita kawal sampai 2009.

Apa sebetulnya yang kurang dari pemerintahan ini, kalau dari segi ideologi?

Seharusnya mereka berani ngomong, kalau sudah melanggar Pancasila mesti ditindak. Tidak perlu penafsiran lain.

Apa komentar Anda tentang kebijakan pertanian atau pangan yang dikeluarkan oleh pemerintah?

Kita tidak bisa menolak globalisasi. Tapi Amerika ini memang nakal. Di pertanian mereka sangat membela petaninya. Mereka tidak mau memberi petaninya perang terhadap pasar, sedangkan kondisi pertanian mereka begitu hebatnya. Tapi kalau petani kita kan disuruh perang sama pasar.
Saya sendiri agak bingung dengan pemerintahan Indonesia ini. Biasanya, kalau negara maju, mereka sudah memiliki ketahanan pangan. Baru bicara kesehatan kemudian pendidikan dan terakhir IT. Ironisnya, kita ini pada saat kelaparan sudah bicara tentang IT, itu kan aneh.

Lalu bagaimana kita bisa menciptakan kemandirian petani Indonesia?

Yang pertama harus dilakukan adalah all out kepada petani. Ada yang harus dilakukan untuk menciptakan kemandirian, yaitu pembangunan infrastruktur pertanian. Itu tidak bisa mundur lagi. Kalau kita tidak mengurus hal itu jangan harap bangsa ini bisa maju.

Saat ini di tengah masyarakat ada kerinduan terhadap zaman Orba Soeharto, apa pendapat Anda?

Demokrasi yang kita jalankan ini sudah paling bagus.

Jusuf Kalla tetap merisaukan, dia bilang sejahtera dulu baru demokrasi?

Itu tidak bisa, semua orang paham, demokrasi dulu baru sejahtera. Di jaman Soeharto pernah dicoba kesejahteraan yang utama tapi tetap tidak bisa sejahtera. Intinya, UU yang dibikin itu harus dijalankan dulu oleh semua orang. Sejatinya mengapa kita tidak bisa maju-maju karena UU yang dibikin itu tidak dijalankan oleh semua orang.

Kalau PDIP kalah di 2009, Megawati siap untuk menjadi nomor dua?

Kita tidak siap. Saat ini kita percaya diri. Saya yakin menang.

Majalah Adil, Edisi 35, II, 24 Juli – 20 Agustus 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: