Mengenang Tiga Kawan Aktivis 80 an: Bambang Hari, Wiji Thukul, dan Semsar Siahaan

Diskusi dengan tema “Mengenang Tiga Kawan Aktivis 80 an: Bambang Hari, Wiji Thukul, Semsar Siahaan”, dimaksudkan untuk memberikan apresiasi terhadap prestasi berkesenian dan dedikasi ketiga kawan tersebut dalam memperjuangkan tegaknya demokrasi di Indonesia. Acara ini bertempat di rumah M. Yamin, yang sekaligus juga merupakan sekretariat Beranda Budaya ini, dihadiri oleh ratusan mantan aktivis tahun 1980 an dan 1990 an dari berbagai kota di Jawa, dan warga Kampung Pugeran. Diskusi yang laksanakan tanggal 29 Maret 2009 ini, dipandu oleh Bambang Isti Nugroho (pendiri kelompok studi Palagan), dengan pembicara Mulyono, Yayak “Kencrit” Yatmaka, dan M. Febriansyah.

Acara dibuka oleh Juli E. Nugroho yang menjelaskan latar belakang diselenggarakannya diskusi ini. Selanjutnya M. Yamin selaku tuan rumah dalam sambutannya menandaskan bahwa kita tetap perlu mengenang ketiga kawan ini yang dalam kapasitasnya masing-masing telah berkarya dan mendedikasikan hidupnya untuk demokrasi dan sekaligus menjadikannya sebagai spirit bagi kita untuk tetap konsisten melanjutkan apa yang telah menjadi komitmen untuk terus bersama rakyat.

Menurut Mulyono, Semsar Siahaan adalah seorang seniman yang memiliki integritas tinggi terhadap tema-tema kemanusian, kebebasan dan demokrasi. Dalam kebanyakan karya Semsar terdapat satu ciri khas, yaitu selalu menyertakan gambar kawat berduri. Semsar juga banyak memberi dukungan kepada Mulyono, terlebih tatkala pameran instalasi Mulyono yang mengangkat kasus Marsinah dibubarkan aparat. Pada saat itu Semsar sempat mengungkap keprihatinan terhadap situasi represif yang dihadapi oleh Mulyono. “Sekarang kamu yang dilarang Mul, besok mungkin aku, Thukul atau seniman yang lain. Kita harus saling melindungi”, demikian ungkap keprihatinan Semsar waktu itu.

Selanjutnya Mulyono, Semsar, Thukul dan beberapa aktivis pro demokrasi yang lain mendirikan jaringan kerja kesenian rakyat (JAKKER). Dalam perkembangan selanjutnya Semsar ternyata menarik diri dari keterlibatannya pada JAKKER, sekalipun demikian hubungan antar personal mereka tetap terjaga dengan baik. “Semsar adalah contoh seniman yang setia dengan teknik drawing, dan karya-karya drawingnya sekarang sudah beredar di tangan para curator. Tidak mustahil suatu saat karya-karya Semsar akan dihargai seperti karya-karya graffiti Basquiat”, demikian Mulyono Menandaskan.

Adapun Yayak Yatmaka yang tampil sebagai pembicara kedua lebih fokus mengulas Bambang Hari, yang menurutnya kaya akan data kasus. “Bambang Hari seorang yang sangat teliti, setiap kali dia datang selalu dengan data tentang kasus-kasus penggusuran yang lengkap dan detail”, ungkap Yayak. Yayak menceritakan pengalamannya bersama Bambang Hari, yang menurutnya adalah seseorang yang memiliki pembawaan tenang dalam menghadapi setiap persoalan.

Pada satu ketika Yayak diburu aparat, berkait dengan ilustrasi kalender “Tanah Untuk Rakyat” yang dikeluarkan oleh Forum Diskusi Perempuan Yogyakarta (FDPY) tahun 1991. Bambang Hari banyak membantu Yayak dalam upaya mencari tempat untuk bersembunyi. Dan selama dalam persembunyian Yayak, Bambang Hari selalu memberikan dukungan termasuk membuatkan identitas palsu untuk Yayak. Karena Bambang Hari pulalah, maka selama dalam persembunyiannya Yayak masih dapat berpartisipasi dalam demonstrasi- demonstrasi melalui poster-poster dan ilustrasi yang kemudian dibawa oleh demonstrans. “Bambang Hari selalu menyuruhku menggambar atau membuat poster setiap kali akan ada demonstrasi, dan kemudian dia bawa gambar dan posterku demonstrasi”, ucap Yayak.

Sementara menurut M. Febriansyah, proses perkembangan kreatifitas puisi Thukul tidak bisa dilepaskan dari aktivitasnya di Teater Jagat yang sudah digeluti Thukul sejak kelas 2 SMP. Menurut informasi yang didapat Febriansyah dari Wijiyanto pengasuh teater Jagat, Wiji Thukul pernah membacakan puisi dihadapan teman-temannya, dan menurut Thukul teman-temannya pada waktu itu tidak bisa memahami maksud dari puisinya. Peristiwa ini membuat Thukul melakukan introspeksi dan selanjutnya membuat Thukul merubah gaya puisinya, menjadi tegas, lugas dan jelas. Selain itu, perjumpaan Thukul dengan Salim HD banyak mempengaruhi perubahan warna puisi Thukul hingga jadi seperti sekarang ini.

Sekalipun demikian menurut Febriansyah, banyak penyair yang populer dan memiliki nama besar pada waktu itu, seperti Afrizal Malna, Sutardji C. Bahri, serta WS Rendra, mencibir puisi-puisi Thukul. Bahkan Bambang Isti Nugroho yang jadi moderator sempat menambahkan bahwa Thukul pernah mendapat penghargaan Wertheim Award dari Belanda, namun karena situasi ekonomi yang dihadapi Thukul, maka Thukul memutuskan untuk tidak datang ke Belanda menerima penghargaan tersebut secara langsung, dan meminta uang transportnya saja agar dikirim “mentah” guna dibelikan mesin jahit untuk istrinya. Pada waktu itu dari Indonesia ada dua penyair yang mendapatkan penghargaan tersebut, karena Wiji Thukul berhalangan hadir maka panitia penganugerahan Wertheim Award bermaksud menitipkan penghargaan tersebut ke penyair satunya. Namun penyair satunya dengan enggan dan bersungut-sungut berkata, “saya tidak mengenal Wiji Thukul!”

Puisi-puisi Wiji Thukul adalah cermin kegelisahan atas penderitaan dan kepedihan orang-orang tertindas. Tidak ada metafora atau gaya bahasa yang meliuk-liuk dalam puisi-puisi Thukul. Bagi Thukul, penderitaan dan kepedihan tidak pantas untuk dikemas dengan kata-kata indah. Penderitaan dan kepedihan adalah sakit. Dan sakit itu, tentu saja tidak indah.

Perjuangan Wiji Thukul tidak berhenti pada batas kata-kata, menyuarakan penderitaan dan kepedihan saja tidak cukup. Bagi Thukul, perubahan menuntut adanya tindakan nyata, bukan sekedar menulis atau membaca puisi. Prinsip dan keyakinan yang seperti itulah yang membawanya pada aktivitas politik.

Seiring dengan makin membusuknya regim otoriter orde baru, maka intensitas represif Negara kepada elemen-elemen gerakan pro demokrasi, juga semakin tinggi. Represifitas Negara yang bermaksud mempertahankan regim otoriter orde baru ini, juga ditujukan kepada Wiji Thukul dan kawan-kawannya. Puncaknya, bersamaan dengan kasus hilang dan diculiknya beberapa aktivis pro demokrasi di Indonesia tahun 1998, maka raib pulalah Wiji Thukul.

Diskusi yang digelar bersama oleh Beranda Budaya, Perhimpunan Solidaritas Buruh, Rumpun Tjut Nyak Dien dan RODE, ini berlangsung dari pukul 15.00 sampai dengan 21.00 WIB, ditutup dengan pemutaran film dokumenter tentang ketiga kawan dan doa tahlil oleh Majelis Taklim Kampung Pugeran yang dipimpin oleh Kyai Sahroni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: