Lahan pertanian terkena proyek jalan tol

Edisi : Sabtu, 19 Juli 2008 , Hal.IX
Lahan pertanian terkena proyek jalan tol
Produksi padi terancam turun 5.600 ton

Sragen (Espos)   Produksi padi di Kabupaten Sragen secara makro terancam turun menyusul proses pembebasan 200 hektare lahan pertanian untuk pembangunan jalan tol Solo-Ngawi.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Sragen, Haryoto ditemui Espos Jumat (18/7) mengatakan, lahan pertanian seluas 200 hektare yang kini masih dalam proses pembebasan merupakan lahan irigasi teknis. ”Dengan asumsi luas lahan yang dialihkan 200 hektare, kami kehilangan 600 hektare luas panen per tahun. Dengan luas panen tersebut, kami kehilangan 5.600 ton gabah per tahun.”
Dia menjelaskan, dalam luasan satu hektare lahan pertanian yang akan dibebaskan tersebut biasa menghasilkan sembilan ton gabah dalam satu kali panen. Sedangkan lahan yang akan dibebaskan itu yakni di delapan desa di wilayah Kecamatan Masaran, Sidoharjo, Ngrampal dan Sragen Kota. Menurutnya, proses pembebasan lahan untuk jalan tol sedang dalam proses oleh Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Kabupaten Sragen. Sebelumnya P2T juga sudah menyelesaikan pengukuran lahan yang akan dibebaskan.
Kompensasi
Haryoto melanjutkan, pihaknya sedang menggagas mekanisme penambahan lahan irigasi teknis sebagai kompensasi digunakannya 200 hektare lahan untuk jalan tol. Penambahan lahan irigasi dengan cara mengalihkan jatah air yang selama ini diperuntukkan 200 hektare lahan jalan tol, ke lahan irigasi setengah teknis atau lahan tadah hujan. ”Intinya kami akan alihkan jatah air untuk lahan pertanian yang dibebaskan tersebut ke lahan pertanian lain. Sehingga lahan potensial yang hilang bisa kami gantikan dengan lahan pertanian lain,” imbuhnya.
Terpisah, anggota Fraksi Kebangkitan Keadilan (FKK) DPRD Sragen, Aris Surawan meminta P2T Sragen prosedural dalam pembebasan lahan pertanian milik warga. Menurutnya, warga yang lahannya akan dibebaskan mesti mendapat skala harga tanah mereka. Dalam negosiasi, P2T diminta mengedepankan asas dialog dua arah dengan mengemukakan konsep pembangunan jalan tol. Sehingga, proses pembebasan lahan tidak terkendala penolakan warga.
”Seperti diketahui, masih ada warga yang menolak dengan pembangunan tol. Hal semacam ini perlu pendekatan mendalam dan win-win solution,” tegas dia. – Oleh : Kurniawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: