Apa Relevansi Pemilu?

Ya. Apa sebenarnya relevansi Pemilu bagi anda? Inilah pertanyaan besar yang menggoda hari-hari ini. Ketika di tengah 30% penduduk miskin itu diskusi pemilu direduksi media sebagai hasil survay lembaga ini atau itu.

Tiga puluh persen penduduk Indonesia hidup di tengah kemiskinan. Apakah arti pemilihan umum jika tidak dapat digunakan memecahkan masalah kemiskinan ini? Jika sekarang ini pertanyaan itu bisa diuji, hampir pasti kita akan mendapat jawaban yang negatip. Lihat saja kecerundungan “golput” terus meningkat. Empat puluh tahun sejak Orde Baru, 40% “golput.” Apakah setiap tahun “golput” harus naik 1% ?

Suara 30% itulah yang sesungguhnya menentukan dalam pilkada, pilgub, pemilu, pilpres. Tiga puluh persen suara rakyat dalam setiap pemilu sebenarnya menjamin sukses bagi partai politik manapun yang dipercaya pemilihnya. Yang menjadi masalah ialah jika ini hanya menjadi angka-angka yang dihargai murah.

Pengalaman selama 30 tahun dibawah rezim Orde Baru telah membentuk kesadaran politik yang pasif mengenai realitas: kenyataan tidak bisa diubah. Kenyataan sehari-hari yang rakyat Indonesia alami, rendahnya kualitas pelayanan publik, membekukan nasib rakyat sebagai warga negara kelas dua. Sepuluh tahun Reformasi tidak pula mengubah kesadaran pasif ini, bahkan seolah memberi pembenaran. Suara rakyat tak ada bedanya seeperti komoditi biasa, yang bisa dijualbelikan untuk siapa saja yang membuat penawaran.

Intinya, rakyat menjadi kehilangan kekuatannya. Orang menjadi miskin karena merasa tidak berdaya. Baik secara ekonomi, maupun secara politik. Suara rakyat tidak bisa digunakan sebagai alat tukar menukar yang sebanding.

Orang merasa wajar saja kalau suaranya, kepercayannya, mereka hargai murah, diberikan kepada siapa saja yang membuat penawaran, karena merasa hanya itulah bagian mereka dalam demokrasi. “Masih lumayan ada yang menawar, dari pada nggak ada harganya,” begitu kira-kira logikanya.

Lalu apa relevansinya demokrasi, pemilihan umum, bagi anda, 30% penduduk Indonesia yang hidup dalam kemiskinan? Ketika pemilihan menjadi acara rutin setiap tahun, ketika setiap partai politik bersiap melangkah route 2009, ada baiknya berhenti sejenak untuk menahan nafas: ada sebuah paradox yang setiap kali mencari penjelasan baru di sana.

Indonesia dengan APBN 1000 triliun tapi masih punya 30 persen rakyat miskin. Ironi sekali, bukan? Sebagai negara demokrasi Indonesia telah melaksnakan pemilihan kepemimpinan politik secara langsung mulai dari tingkat kepala desa , bupati dan walikota, gubernur hingga presiden, tapi trnyata tidak kunjung mampu mendapatkan pemimpin yang baik. Padahal dengan sitem yng demokratis dan anggaran 1000 triliun itu, seharusnya problem utama rakyat Indonesia bisa diselesaikan, sehingga setahap demi setahap kemiskinan dan keterbelakangan dapat dipecahkan sebagaimana cita-cita negara dalam Pembukaan UUD 1945.

Satu Tanggapan to “Apa Relevansi Pemilu?”

  1. dimana mana banyak golput kok. dari amerika sampe afrika. mungkin ini paradoks demokrasi yg katanya suara tuhan suara rakyat. tapi kalau rakyatnya ngak peduli apa pemimpinnya masih bisa ngeklaim legalitas kepemimpinannya ? ah malah bertanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: