18.000 hektare di Kabupaten Sragen diperkirakan bera

Jangan paksa tanam padi saat musim kering

Espos – Edisi : Jum’at, 11 Juli 2008 , Hal.IX

Sragen (Espos)  Lahan pertanian seluas 18.000 hektare di Kabupaten Sragen diperkirakan tidak akan digarap pemiliknya alias bera pada musim kering 2008.
Di sisi lain, petani diimbau tidak nekat menanam padi memasuki masa tanam saat musim kering tiba. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Sragen, Haryoto, kepada Espos, Rabu (9/8), mengatakan petani di lahan tadah hujan sebaiknya menanam palawija.
”Jangan paksakan menanam padi pada musim kering, apalagi untuk daerah kering seperti Kecamatan Miri dan Sumberlawang. Palawija seperti tanaman kacang-kacangan menjadi pilihan paling realistis saat ketersediaan air minimalis,” ujarnya.
Haryoto menambahkan saat musim kering tidak sedikit petani yang memilih tidak menggarap lahan mereka alias bera. Menurut Haryoto, lahan bera di Bumi Sukowati pada musim kemarau saat ini bisa mencapai 18.000 hektare yang merupakan lahan tadah hujan. Petani di daerah tersebut hanya bisa menggarap lahan mereka saat musim penghujan atau saat sumber-sumber air seperti sumur dan sungai masih mengalir. Namun diakuinya tidak sedikit petani tadah hujan yang menanam palawija saat kemarau. Terkait hal itu, petani yang akan menanam palawija di daerah minim air diminta penuh perhitungan guna mencegah terjadinya puso tanaman palawija.
Haryoto melanjutkan tidak digarapnya lahan pertanian tadah hujan tak akan mempengaruhi target produksi beras Kabupaten Sragen. Sebab, lahan bera merupakan fenomena rutin tahunan saat musim kemarau. ”Perhitungan perkiraan target produksi gabah dan beras sudah memperhitungkan lahan yang bera. Jadi target produksi tahun ini tidak akan terganggu dengan tidak luasnya lahan bera.”
Sementara itu Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno, mengungkapkan banyaknya petani yang menanam padi pada musim kering dikhawatirkan tidak akan menghasilkan tanaman baik.
Sebab, selain minimnya ketersediaan air, petani juga kesulitan memperoleh air pascakenaikan bahan bakar minyak (BBM). Menurut Suratno, tingginya harga BBM menjadi kendala petani untuk mengoperasikan mesin diesel dan mesin pompa air lainnya. ”Pada praktiknya saat ini petani sudah kesulitan dengan ketersediaan air, ditambah lagi dengan minimnya dana untuk membeli BBM atau membeli air untuk tanaman mereka. Kondisi ini memprihatinkan sehingga perlu penyikapan bersama pemerintah,” tandas dia. – Oleh : kur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: