PKL dan Revitalisasi Kota Tegal

PKL dan Revitalisasi

Kamis, 10 Juli 2008

Nirmalapost – Jl. Yos Sudarso No. 13 Tegal
Telp. (0283) 3329833, 3329844. Fax. (0283) 357007

Revitalisasi Alun-alun rupanya menjadi trend pembangunan, mulai Surakarta, Semarang, Tegal dan kini, Brebes. Sebagian berpendapat revitalisasi itu sebagai aktualisasi wajah sebuah kota. Dan wajah kota kerap dikaitkan dengan Alun-alun atau kawasan magnet. Sebenarnya Alun-alun yang ada di tanah air merupakan ruang publik yang jarang di temukan padanannya di negara lain. Alun-alun, salah satu tempat yang mempertautkan unsur masa lalu, peninggalan zaman kerajaan yang masih sikron dengan pemerintahan masa kini.
Lantaran dikenal sebagai produk tempo dulu, Alun-alun paling dominan sebagai obyek revitalilsasi. Sayangnya tidak jelas akan bagaimana arah revitalisasi, bukankah revitalisasi berarti menata ulang fungsi sebuah obyek. Sementara itu revitalisasi terkadang memberi dampak pada keberadaan manusia, terutama kawasan wajah kota.
Di manapun, wajah kota selalu akrab dengan kegiatan ekonomi rakyat kecil, mulai pedagang kaki lima sampai pedagang kios. Mereka biasa berkerumun di daerah-daerah ramai. Kelompok merekalah yang paling merasakan dampak keputusan pemerintah untuk merevitalisasi wajah sebuah area. Akhirnya kisah revitalisasi Alun-alun akrab dengan kisah penggusuran pedagang kaki lima, dan perseteruan PKL dengan pemerintah.
Tetapi apakah revitalisasi itu sedemikian mendesak bagi sebuah daerah? Itu pertanyaan yang sangat relatif. Bagi daerah bervisi metropolis sebagaimana Kota Tegal, barangkali revitalisasi Alun-alun menjadi keharusan, tetapi perlu konsep yang jelas dulu, bukan asal. Sebab revitalisasi Alun-alun itu berkaitan dengan banyak fungsi.
Bagi daerah semacam Brebes, revitalisasi pun memiliki pertimbangan tersendiri. Dari mulai bentuk fisik dan penataan yang tidak pas bagi karakter sebuah Alun-alun sampai aspek estetika ruang. Maka soal revitalisasi sangat berbeda antara satu daerah dengan daerah lain.
Celakanya revitalisasi hanya bagian dari agenda tersembunyi bernama proyek fisik. Untuk merevitalisai Alun-alun jelas selalu melibatkan dan besar, maka kecurigaan hidden agenda di balik pogram revitalisasi itu tidak salah. Oleh karena itu, revitalisasi, apapun obyeknya perlu dikembalikan pada publik lebih dulu, agar semua ikut memberi arah. Di sinilah tantangan bagi pengambil kebijakan, mampukah merangkul setiap eksponen masyarakat untuk bercengkerama atas nama revitalisasi-d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: