Arsip untuk Desember, 2008

Soal Buruh APJ – LBH Pertanyakan Langkah Dewan

Posted in LBH, Tegal dengan kaitan (tags) , , , , , on Desember 24, 2008 by Muhammad Yamin, S.H
Nirmala post 17/12/2008
Tegal (NP)-Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Tegal mempertanyakan kembali langkah DPRD Kota Tegal dalam menyelesaikan permasalahan yang dialami buruh obat nyamuk PT Ampuh Perkasa Jaya (APJ), padahal Komisi B DPRD Kota Tegal sudah mengundang Disdukcapilankertran beberapa waktu lalu. Namun saat ini belum ada kejelasan langkah dari DPRD yang sudah diambil.
Hal ini mencuat saat dua perwakilan LBH Tegal yakni Sunaryo dan Slamet Hidayat mendatangi Komisi B DPRD Kota Tegal,Rabu (16/12). Pendiri LBH Tegal M.Yamin melaluhi bagian Organisasi , Slamet Hidayat seusai mendatangi komisi B mengatakan, ingin mendapatkan kepastian dari komisi B DPRD Kota Tegal.
“Karena persoalan buruh mendesak diselesaikan, maka kedatangan kami berdua kesini menanyakan sejauh mana penyelesaian buruh PT APJ yang tempo lalu telah menghadap DPRD dan ditemui Komisi B. juga terkait dengan tiga buruh APJ yang di paksa mengundurkan diri dari Serikat Buruh Independen Indonesia (SBII),” kata Slamet
Juga ada persoalan lain yang dialami buruh, yakni tentang upah, system kontrak kerja dan lain lain. Berdasarkan hasil survei yang idlakukan LBH Tegal ada sekitar 60% buruh di Kota Tegal tidak memahami dan menentukan cara menetapkan upah buruh menurut aturan yang berlaku. Mereka hanya menerima hasil keputusan yang dibuat pemerintah, meskipun keputusan itu merugikan hak hak buruh.
“Saat dilakukan survey, perusahaan tidak pernah memberikan informasi kepada buruh tentang upah minimum. Akhirnya buruh termarjinalkan terkait tranformasi informasi” katanya.
Menurutnya dalam hal ini pemerintah juga kurang mensosialisaikan aturan aturan perundang undangan yang berlaku. Kondisi ini akhirnya dimanfaatkan pengusaha dengan membatasi informasi. Bahkan buruh sering dibutakan kaitanya dengan upah minimum tersebut.
Dengan diberlakukan UU Nomor 22 tahun 1999 dan UU Nomor 25 tahun 1999, kemudian diperbaruhi dengan ditetapkan UU Nomer 32 tahun 2004 yang mengatur soal desentralisasi dan otonomi daerah dan perimbangan keuangan daerah dan pusat maka kewenangan upah minimum kewenangan daerah.
Menanggapi hal itu ketua komisi B Supardi SH mengatakan berencana mendatangi PT APJ “disduk sudah kita panggil dan berjanji memperketat pengawasan terhadap naker.

Peresmian Monumen Bahari Diwarnai Protes

Posted in LBH, Tegal dengan kaitan (tags) , , , , on Desember 24, 2008 by Muhammad Yamin, S.H

Radar Tegal 21/12/2008

Peresmian Monumen Bahari di kawasaan Obyek Wisata Pantai Alam Indah di warnai aksi protes puluhan warga Jalan Sangir RT11 dan RT9 RW11 Kelurahan Mintaragen Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal, sabtu (20/12).

Dalam aksi itu warga didampingi Lembaga Bantuan Hukum Tegal ( LBH-Tegal). Mereka memprotes pembangunan Water Bom di kawasan PAI yang justru menutup saluran air. saat hujan, perkampungan di dua RT tersebut mengalami banjir.

Namun saat protes berjalan, dianggap mengganggu jalannya peresmian tersebut oleh pihak kepulisian, petugas berhasil menggagalkan atau membubarkan aksi tersebut.petugas menganngap bahwa aksi itu tidak ijin dan tidak pada tempatnya

salah satu tokoh masyarakat jalan sangir kelurahan Mintaragen tersebu mengatakan pembangunan waterbom harusnya juga memikirkan dampak dari lingkungan setempat jangan asal bangun aja. kita tidak menolak adanya pembangunan tetapi tolong lingkungan harus di perhatikan.

hal senada juga di sampaikan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH-Tegal ) Tegal terkait masalah ini kami akan melakukan di alog dengan pihak pwmkot dalam hal ini wali kota guna menyelesaikan kasus yang di timbulkan dari pembangunan watr bom tersebut.

Aksi protes ini sengaja kami gelar agar pemkot tahu bahwa perkampungan di dua RT ini banjir.

Kaporlesta Tegal, DRS MM Rachman melaluhi kasat intel AKP Suwartoyo
mengatakan aksi demo itu tidak di benarkan.Mereka belum ijin jadi aksi tersbut terpaksa saya gagalkan. masih banyak cara lain menyampaikan aspirasi. salah satunya beraudiensi langsung dengan walikota.

Menanggapi aksi protes warga itu wakil ketua DPRD Kota Tegal H Edy Suripno SH mengatakan pemkot semestinya memperhatikan kondisi sekitar saat melaksanakan pembangunan.

Adanya protes ini membuktikan bahwa pembangunan water bom ada kelebihan dan kekurangannyanya. Kekurangannya perencanaan pembangunan kurang matang karena pemkot melupakan kebutuhan warga. yakni membuatkan saluran air.

Peta Pemilih Pemula (Hasil Polling Litbang Kompas)

Posted in indonesia dengan kaitan (tags) , , , , , on Desember 3, 2008 by Muhammad Yamin, S.H

Senin, 1 Desember 2008 | 15:41 WIB

MENYANDANG sebutan sebagai pemilih pemula, golongan penduduk usia 17 hingga 21 tahun tidaklah selalu buta soal politik, termasuk soal pemilihan umum yang akan dihelat negeri ini tahun depan. Pengetahuan mereka terhadap pemilu tidak berbeda jauh dengan kelompok lainnya. Yang berbeda adalah soal antusiasme dan preferensi.

Antusiasme pemilih pemula, yaitu pemilih yang akan mengikuti Pemilu 2009 untuk pertama kalinya, terangkum dalam hasil jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas pada 25-27 November lalu. Dari sejumlah pemilih pemula yang diwawancarai melalui telepon, terungkap bahwa mayoritas (86,4 persen) menyatakan akan menggunakan hak suara mereka dalam pemilu.

Tingkat antusiasme ini termasuk paling tinggi. Pada kelompok pemilih muda lainnya, yang sudah pernah menggunakan hak suaranya, seperti kelompok usia 22-29 tahun dan 30-40 tahun, tingkat antusiasmenya lebih rendah sekitar 5 persen. Pada kelompok usia yang lebih tua, yakni 41 tahun ke atas, antusiasme untuk mengikuti pemilu dalam bentuk memberikan suara lebih rendah lagi, yaitu 79,3 persen.

Alasan di balik niat mencoblos para pemilih mula adalah pemikiran bahwa apa pun hasil pemilu akan berdampak juga bagi kehidupan mereka, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga lebih baik ikut memberikan suara. Namun, seperti apakah sebenarnya preferensi para pemilih pemula ini?

Setelah berjalan hampir empat bulan sejak Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan 34 parpol nasional peserta Pemilu 2009 yang kemudian bertambah menjadi 38 parpol, pengenalan para pemilih pemula terhadap parpol masih rendah.

Lebih banyak responden pemilih pemula yang mengaku hanya tahu nama partai-partai besar yang sudah ada sejak dulu. Kondisi ini sebenarnya juga sama pada kelompok pemilih muda lainnya, bahkan juga pada pemilih yang tua. Tidak heran hanya sekitar 1,5 persen dari total responden yang mengaku mengetahui hampir semua parpol.

Hal ini mengindikasikan masih lemahnya sosialisasi partai-partai baru di masyarakat. Selain banyak tidak mengetahui keberadaan partai baru, bagian terbesar responden juga tidak mengetahui nama-nama caleg yang diusung parpol. Padahal mereka (caleg) inilah yang nantinya akan dipilih.

Jika seandainya saat ini dilakukan pemilihan umum legislatif, sejumlah besar pemilih pemula ini (33,9 persen) masih belum memutuskan partai mana yang akan dipilih. Sementara itu, sejumlah 49 persen responden pemilih pemula yang sudah punya pilihan diperebutkan oleh partai-partai mapan seperti Partai Demokrat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Golkar.

Partai-partai baru, meski tidak dinafikan oleh para pemilih pemula untuk dipilih, belum sampai pada tingkat menarik minat mencoblos. Artinya, preferensi pemilih pemula terhadap partai baru dalam tingkatan penerimaan (akseptabilitas) namun belum konkret menjadi sebuah pilihan politik (elektabilitas)

Pengaruh keluarga

Antusiasme yang tinggi sementara keputusan pilihan yang belum bulat, sebenarnya menempatkan pemilih pemula sebagai swing voters yang sesungguhnya. Pilihan politik mereka belum dipengaruhi motivasi ideologis tertentu dan lebih didorong oleh konteks dinamika lingkungan politik lokal.

Pemilih pemula mudah dipengaruhi kepentingan-kepentingan tertentu, terutama oleh orang terdekat seperti anggota keluarga, mulai dari orangtua hingga kerabat.

Kondisi tersebut tampak jika merunut perilaku pemilih pemula pada beberapa penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada). Hasil jajak pendapat pasca-pemungutan suara (exit poll), pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta (8 Agustus 2007), menunjukkan orangtua adalah yang paling memengaruhi pilihan para pemilih pemula. Teman dan saudara juga ikut memengaruhi namun dengan persentase yang lebih kecil.

Pola yang sama juga terlihat pada hasil exit poll Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat (13 April 2008) dan Jawa Timur putaran pertama (23 Juli 2008). Orangtua menjadi pihak yang paling memengaruhi pilihan para pemula di Jabar dan Jatim (lihat tabel). Selain teman dan saudara, yang turut memengaruhi pilihan adalah pasangan hidup. Di Jatim, peran orangtua dalam memengaruhi pilihan sebagian besar diambil alih oleh pasangan hidup si pemilih.

Media massa juga turut memengaruhi pilihan pemilih pemula. Pengaruh terbesar berasal dari pemberitaan media elektronik terutama televisi (antara 60 persen dan 67 persen).

Disusul kemudian lewat spanduk, poster, brosur, dan sejenisnya. Sementara pengaruh dari internet belum begitu besar bagi kelompok ini, hanya 0,5 persen-2 persen.

Konsep mengenai ke-Indonesiaan yang dimiliki kelompok muda juga mendorong mereka menentukan pilihan secara otonom. Dari hasil jajak pendapat diketahui, para pemilih pemula ini memiliki gambaran ideal tentang Indonesia, yaitu Indonesia yang makmur dan sejahtera.

Untuk menuju Indonesia yang seperti itu, jalannya adalah melalui pemilu. Keyakinan ini disampaikan delapan dari sepuluh responden.

Program kampanye

Meski tidak mudah, tingginya antusiasme pemilih pemula untuk ikut mencoblos pada pemilu tahun depan menjadi peluang bagi partai baru.

Menurut responden, program atau isu yang perlu dikembangkan dalam kampanye partai agar menarik minat kalangan pemilih pemula adalah soal pendidikan dan kesehatan (30,8 persen).

Program yang perlu diperhatikan selanjutnya secara berturut-turut adalah kesejahteraan umum (21,3 persen) dan isu perekonomian (13,1 persen).

Tingginya antusiasme dan gambaran ideal pemilih pemula mengenai Indonesia, nantinya akan teruji saat Pemilu 2009. Suara pemilih pemula akan turut menentukan arah pemerintahan yang baru.

Paling tidak, didapat gambaran bahwa sesungguhnya kaum muda terutama pemilih pemula, tidak lagi apatis terhadap proses demokrasi saat ini.
(Litbang Kompas/GIANIE)